February 23, 2010

Reifikasi..


Tema Pameran:
Jakarta merupakan masyarakat yang penuh mobilitas. Mobilisasi orang-orang dalam masyarakat, juga diiringi oleh mobilisasi benda-benda konsumsi yang melingkupinya. Namun apakah kaidah mobilisasi ini bisa sebaliknya, berasal dari mobilisasi benda-benda yang melatari mobilisasi orang-orang dalam masyarakat kita saat ini.
Asumsi hubungan antar benda inilah yang kemunian mengandaikan hubungan antar orang-orang dalam masyarakat yang mengiringinya, sehingga entitas manusia tidak lagi mengandaikan humanism nya, tapi lebih mengandaikan hubungan antar benda yang disejajarinya. Semacam ‘objektifikasi khayali’ hubungan antara orang-orang yang mengambil hubungan antar benda-benda. Inilah yang kemudian masyarakat sampai pada fase komoditas yang tidak lagi melekat pada benda-benda tapi sudah sampai pada entitas manusia dalam masyarakat.
Manusia sebagai komoditas begitu jelas nampak pada perilaku mobilisasi masyarakat Jakarta sebagai kota industri hari ini. Produktifitas sebagai pakem dalam masyarakat industri menyisakan sebuah pergeseran tentang makna hubungan antar manusia dalam masyarakat yang tidak lagi berbasis pada hubungan yang manusia, tapi satuan manusia kini dihitung berdasarkan nominal-nominal. Mulai dari kesibukan sehari karena jam kerja yang terlihat pada lalu lalang masyarakat serta kemacetan di jalan raya kota sepanjang waktu. Begitu pula, sebagai sebuah kota, jakarta merupakan mobilisasi masyarakat yang dipenuhi oleh kegiatan berbelanja sebagai gaya hidup, serta identitas.
Mobilisasi perputaran dari produktifitas sampai dengan konsumsi sebagai sirkulasi terakhir dari mata rantai masyarakat industri, benar-benar memobilisasi masyarakat yang sejajar dengan benda-benda. Kesadaran manusia di era industri inilah yang kemudian melahirkan ‘reifikasi’ atau keterasingan masyarakat karena direduksi oleh hukum ekonomi industri. Kondisi keterasingan diperkuat lagi dengan budaya media massa yang sebagai acuan kesadaran, yang sirkulasinya ujung-ujungnya adalah konsumsi.


Jakarta is a society with intense mobility. The mobility of the citizens inside this community goes along with the mobility of the enclosed consumer goods. But what if the principle of this mobilization is the other way around, it derives from the mobilization of items that caused the mobilization of the people in today’s society.
The supposition of the relationship between these items then assumes the relation between people in the society that goes along with it, so the entity of human being is no longer assuming the humanism, but more to the interrelation of the items paralel to it. A kind of “imaginary objectification” of the interrelation of people who takes interrelation of items. This is why then the society gets to a commodity phase which doesn’t stick to items anymore, but it has reached the entity of human beings in a society.
Human beings as commodities can be seen clearly in the mobilization behaviour of Jakarta’s citizen as today’s industrial city. Productivity as a guideline in industrial society leaves a displacement of the meaning of relationships between human beings in a society, which no longer based on inter-human relationship. Human beings are being measured based on nominal. Starting from a busy day on working hours reflected on the traffic and traffic jams on the city’s main road all day long. And so, as a city, Jakarta is the citizen’s mobilization full of shopping activities as a lifestyle, and as an identity.
Circulative mobilization of productivity until consumption as the last circulation of the industrial citizen’s chain-link, really mobilizes the society wich is paralel to the items. Human being’s awareness in the industrial era then creates “reification” or society’s alienation due to reductions of industrial economics law. This state of alienation is strengthen by the culture of mass media as the consciousness’ reference, which its circulation ends at consumption.

February 17, 2010

house of card

copy paste singkat hari ini

filem dokumenter menunjukan kehidupan sebenar-benarnya diluar dari makna propaganda, pendidikan atau sebuah gaya/tren dan produksi hiburan yang menandakan genre selama awal dari abad ke-20. Paling tidak jalan ini lah yang banyak diakui filem dokumenter modern, dan mereka berkembang dibawah pengaruh dari kritik televisi jurnalis yang sama hal seperti Cinema langsung di Amerika dan sinema verite di Perancis selama tahun 60-an dan 70-an terutama di Amerika utara, Eropa barat dan FRG, tetapi untuk jangkauannya juga di Eropa timur dan GDR (german). Dibawah pengaruh protes perlawanan dan mereka yang memeluk gaya hdup alternatif/ berlainan, sejumlah pembuat filem mengambil sisi ketidakberuntungan sosial dan minoritas seperti halnya mereka yang ikut telibat dalam gerakan perlawanan dan pembebasan. Sebagai tambahan, mereka menahan diri dari kehadiran komentar yang maha tahu sang pencipta/pembuat, yang mana lazimnya bergantung pada waktu itu, dan mengizinkan bagi mereka yang berpengaruh untuk berbicara bagi diri mereka sendiri dalam pembicaraan, diskusi, dan pernyataan. Menggunakan kamera sebagai sebuah instrumen pengamatan yang mereka eksplorasi/jelajahi dunia pekerjaan dan kehidupan keseharian dari populasi dan pembagian yang besar dengan sikap adegan dan penjadwalan urutan adegan (sequences) yang menjadi praktek lazim sebelumnya. Tokoh jahat mereka bukan siapa yang terkenal atau penting, tetapi lebih pada orang-orang biasa. Tujuannya adalah untuk men-set kritik kebenaran dari ……………….

Itu adalah segala sesuatu yang ada di masa lalu. Dengan penolakan dari Gerakan Protes pada tahun 80an yang juga merupakan klaim pendidikan keyakinan diri dari sedikitnya filem dokumenter di Barat yang memasuki masa krisis, yang selama itu dipengaruhi oleh perestroika dan glasnost

Explosions in the sky - First breath after coma