May 9, 2011

TEKNOLOGI DAN STRUKTUR FILEM

TEKNOLOGI DAN STRUKTUR FILEM
Written by diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng

Era Filem Bisu

Dengan mengesampingkan awal eksperimen suara oleh Dickson pada 1894, film adalah murni seni visual sepanjang abad ke-19, tetapi film bisu inovatif ini memberikan pengaruh pada imajinasi masyarakat. Sekitar abad ke-20, dimulailah pengembangan struktur naratif dengan menjalin adegan-adegan menjadi sebuah cerita. Adegan-adegan itu kelamaan terpecah menjadi beberapa shot dengan sudut dan ukuran yang berbeda.

Para penemu dan produser berusaha keras semenjak kelahiran film untuk mengawinkan gambar dengan suara, tapi tak ada teknologi yang memungkinkan hingga akhir 1920an. Karena pada 3 dasawarsa awal yang ada hanyalah film bisu.

Teknik lainnya seperti gerak kamera disadari sebagai cara efektif untuk memotret sebuah cerita dalam film. Daripada membiarkan penonton dalam keadaan hening, pemilik gedung bioskop akan menyewa seorang pemain piano, organ atau orkestra lengkap untuk memainkan musik yang disesuaikan dengan suasana film. Pada awal 1920an, kebanyakan film muncul dengan daftar lengkap musik untuk kebutuhan ini, dengan partitur musik film yang digubah untuk produksi besar. Kadangkala ada juga semacam efek suara dengan dialog dan narasi yang ditampilkan dalam intertitle.

Era Filem Bersuara

Pada 1920an juga, teknologi baru memungkinkan pembuat film memasukkan tiap film sebuah soundtrack suara (dialog), musik dan efek suara yang di sinkronisasikan dengan aksi dalam layar. Film suara ini terkenal dengan sebutan “Filem Bersuara”, atau talkies.

Dziga Vertov

Perkembangan teknologi sinema dunia mendorong munculnya gerakan perubahan di dalam melihat teknologi ini dalam perspektif seni. Sinema mulai dirumuskan sebagai sebuah cabang seni yang mempunyai karakteristik sendiri selain ikatan yang besarnya dengan teknologi.

Dziga Vertov (15 Januari 1896 – 12 Pebruari 1954) salah satu penggagas gerakan pembaharuan sinema asal Soviet membuat manifesto Kino Eye:

“Aku, Sebuah mesin,memperlihatkan kalian dunia seperti yang aku lihat. Mulai sekarang dan selamanya aku menyingkirkan imobilitas manusia, Aku bergerak konstan, Aku mendekati dan menjauhi obyek, Aku merangkak di bawah mereka, Aku melompati mereka, Aku bergerak mencongklang sisi kuda, Aku memintas keramaian, Aku berbalik, Aku lepas landas dengan pesawat terbang, Aku jatuh dan membumbung tanpa jatuh dan menerbangkan tubuh.”

Kesadaran dan bawahsadar penonton.
Kita bangkit melawan persekongkolan “sutradara sihir” dan publik yang terjebak pesonanya.
Kesadaran kita sendiri sanggup melawan segala macam pengaruh sihir itu.
Kesadaran kita sendiri bisa membentuk manusia dengan keyakinan dan pandangan yang pasti.
Kita perlu pribadi yang sadar, bukan massa yang tak sadar, pribadi yang siap berteriak menentang segala sihir.
Hidup kesadaran sejati barang siapa yang bisa melihat dan mendengarnya.
Hancurlah tabir wangi ciuman, pembunuhan, dara dan muslihat menghiba-hiba.
Hidup kaum tersadar !
Hidup KINO EYE !

Dalam hal ini Vertov menempatkan film dan sinema sebagai sebuah kultur baru dalam perkembangan kesenian dunia. Pengaruh gerakan ini masih terasa hingga sekarang yaitu bagaimana sinema mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang di luar kenyataan dan ia ditempatkan sebagai di luar realitas yang sebenarnya. Ini jugalah salah satu pemicu lahirnya eksperimentasi medium dalam karya seni di dunia.

Sinema Sebagai Bahasa Seni

Setelah Vertov mengeluarkan manifesto Kino Eye dengan karya fenomenalnya Man with the Movie Camera, gerakan sinema berubah menjadi dua arah yang berbeda. Satu adalah sinema sebagai “industri hiburan”, dan yang lainnya sinema sebaga “karya seni”.

Kebangkitan Sinema dan Perang Dunia

Kebangkitan sinema Eropa di disela dengan pecahnya Perang Dunia I sementara industri film Amerika sedang berkembang film Hollywood. Bagaimanapun pada 1920an, Pembuat film Eropa seperti Sergei Eisenstein, F. W. Murnau, dan Fritz Lang, bersama dengan inovator Amerika D. W. Griffith dan dengan sumbangan dari Charles Chaplin, Buster Keaton dan yang lain, melanjutkan pengembangan medium film.
Grifith bapak sinema dunia yang menemukan struktur bahasa dalam filem dan sampai sekarag bahasa filem gaya struktural Eisenstein dan semua gaya kolosal mengacu pada Griffith. Walaupun dia hanya membuat 2 filem yang berhasil. Russian directors such as Vertov, eisenstein, terpesona abees sama bapake satu kuwi. Griffith sendiri mati dalam kemiskinan. Kaga laku.
Lang dan Murnau daat tawaran dari studio2 Hollywood. Yang ngembangin studio2 besar tuh mereka. Cikal bakal HOLLYWOOD.

Neorealisme Italia

Neorealisme Italia adalah gaya film dengan karakter cerita yang dibangun dalam lingkungan kaum miskin dan kaum pekerja, difilmkan lansung dalam lokasi, seringkali memakai aktor amatir. Film-film neorealisme Italia kebanyakan berhadapan dengan situsi ekonomi yang sulit dan kondisi mental setelah Perang Dunia II Italia, Merefleksikan perubahan jiwa Italia dan keadaan hidup sehari-hari: Kemiskinan dan keputusasaan.

Gaya neorealisme dikembangkan oleh kritikus film yang tergabung dalam majalah Cinema, meliputi Michelangelo Antonioni, Luchino Visconti, Gianni Puccini, Cesare Zavattini, Giuseppe De Santis, dan Pietro Ingrao. Di luar itu ada Federico Fellini, Roberto Rossellini yang mengawali gaya neorealisme Italia, dan Vittorio de Sica.

Gaya neorealisme memiliki pesan politik yang tak terpisahkan. Secara ideologis, karakteristik dari Neorealisme Italia adalah:

- Semangat demokratik baru, yang menekankan nilai orang-orang biasa
- Sudut pandang simpatik dan penolakan terhadap penilaian moral singkat
- Pendudukan kembali masa lalu Fasis Italia (masa lalu jaya Romawi) dan kerusakan akibat perang
- Percampuran akan Katolik dan Marxis Humanis (dalam tanda kutip anti politik)
- Mementingkan emosi dibanding ide-ide abstrak

Secara stilistik, neorealisme adalah:

- Penghindaran alur cerita yang teliti agar lebih bebas, struktur episode yang berkembang secara organik
- Gaya visual dokumenter
- Penggunaan lokasi sebenarnya —biasanya eksterior— dibanding ruang studio
- Penggunaan aktor-aktor amatir, bahkan untuk peran utama
- Penggunaan tuturan perbincangan bukan dialog sastra
- Penghindaran pemalsuan dalam penyuntingan, kerja kamera, dan pencahayaan untuk gaya minimalis

setelah neo realisme

Semenjak penolakan terhadap sistem studio pada 1960an, dekade kejayaan melihat perubahan dalam produksi dan gaya film. New Hollywood, —atau Hollywood Posklasik atau Gelombang Baru Amerika (pertengahan 1960an sampai akhir 1980an)— Nouvelle Vague —Gelombang Baru Prancis di akhir 1950-1960an— dan kebangkitan sekolah film mendidik pembuat film independen yang juga bagian dari perubahan pengalaman medium di akhir pertegahan abad ke-20. Teknologi Digital mulai merasuki dunia film pada 1990an dan saat ini.







No comments: